Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Ketentuan Taqlid Bagi Orang Yang ‘Âlim



Katanya pintu ijtihad dalam istinbath hukum fikih itu telah tertutup. Menurut pengakuan beberapa Kiai di tanah Jawa. Disisi lain ada yang berpendapat “bukan telah tertutup”, tapi saking lamanya pintu tersebut tertutup, sehingga sulit untuk membukanya kembali. Ada juga yang berpendapat; sebenarnya para Kiai (sebutan Ulama di Jawa) itu telah berijtihad,  karena begitu andap-asornya para Kiai Jawa, sehingga beliau tidak mengatakan ‘saya telah berijtihad’. Ada juga yang nekad, tanpa memiliki pengetahuan yang memadai, tapi ia bersikukukuh menolak mengikuti pendapat Ulama yang terdahulu, dengan dalih kembali pada al-Qur’ân dan hadits nabi.
Untuk pendapat yang terakhir diatas sangatlah memilukan, namun demikian lah realita yang ada. Saya teringat pitutur orang jawa“noto manungso ora gampang koyo noto boto” kalaw diterjemahkan; Menata Umat itu tidak semudah menata batu bata.
Pendapat yang penulis petik dibawah ini dari kitab Ulama Syafi’iyah yang mendapat kedudukan tinggi dan tidak lagi diragukan ke-‘âliman-nya, baik bagi Ulama sezaman atau Ulama setelahnya, yaitu; Ḫilyatu ‘Ulamâ Fî Madzâhib al-Fuqahâ karya Imam Qofal, Abu Bakar Muhammad Ibnu Muhammad Asy-Syâsyi. Shahifah; 39
من أصحابنا من قال: إذا خاف المجتهد فوت العبادة المؤقتة إذا اشتغل بالإجتهاد جاز له أن يقلد من يعرفه .
وقال محمد بن الحسن : يجوز للعالم تقليد من هو أعلم منه .
وفرض العامي التقليد في أحكام الشرع، ويقلد الأعلم الأروع من أهل الإجتهاد في العلم . وقيل: يقلد من شاء منهم .
فإن اختلف عليه اجتهادان . فظاهر كلام الشافعي رحمه الله : أن يقلد آمنهما عنده، فإن استويا في ذلك عنده أخذ بالأشق من قوليهما . وقيل : يأخذ بالأخف .
وفي تقليد الميت من العلماء فيما ثبت من قوله : وجهان، أظهرهما : جوازه .
Beberapa Ulama Madzhab Kami ( Madzhab Syafi’iyah), ada yang mengatakan ; Jika seorang Mujtahid dikhawatirkan habisnya waktu ibadah yang bergantung pada ketentuan waktu, ketika disibukkan (istighâl) dengan istinbath hukum (ijtihad),maka baginya diperbolehkan mengikuti hasil ijtihad Ulama (taqlîd) yang diketahui kealiman-nya.
Muhammad ibnu Ḫasan mengatakan;  Bagi seseorang yang ‘Âlim diperbolehkan (jawâz) mengikuti hasil ijtihad Ulama lain (taqlîd) yang dipandang lebih ‘Âlim dari-nya.
Wajib bagi orang yang bodoh (‘âmiy) mengikuti hasil ijtihad Ulama (taqlîd) dalam ketentuan hukum syar’i,  ia mengikuti hasil ijtihad Ulama yang lebih ‘âlim dan yang lebih wira’i dari para Ulama yang Ahli  berijtihad dalam ilmu agama.
Ada beberapa pendapat Ulama yang menyatakan (qîl) bagi orang yang bodoh (‘âmiy) boleh mengikuti ijtihad Ulama (taqlîd) kepada siapa saja yang dikehendaki (tidak memilih mana yang lebih ‘alim dan wira’i).
Jika dari hasil ijtihad Ulama terdapat perbedaan dua perbedaan pendapat (ikhtilâf), maka kejelasan pendapat Imam Syafi’i raḫimahulLâh, maka ia mengikuti pendapat Ulama yang lebih amanah dari keduanya, jika sama-sama amanah maka dalam permasalahan ini boleh menjadikan pegangan dengan salah satu pendapat yang ia kehendaki.
Beberapa Ulama ada yang mengatakan (qîl) berpegang teguh pada pendapat yang lebih memberatkan dari kedua pendapat tersebut. Ada juga yang mengatakan (qîl) bersikukuh pada pendapat yang lebih ringan.
Dalam permasalahan mengikuti hasil ijtihad (taqlîd) kepada Ulama yang telah wafat, yang telah dikukuhkan dalam suatu pendapat dalam suatu permasalahan hukum, disini terdapat dua wajah, yang dzahir, hokum-nya boleh (jawaz). WalLâhu a’lam..

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia